# Simak review Oxihom Y5 dan Y8. Apakah upgrade armrest dan lumbar supportnya layak beli di tahun 2026 atau cuma gimmick? Baca analisis lengkap Revan di sini.

Geminvo ID – Gue tahu banget apa yang ada di pikiran kalian sekarang karena DM gue penuh dengan pertanyaan yang sama. Sejak gue rilis video soal kursi-kursi ergonomis beberapa hari lalu, notifikasi gue jebol nanyain soal dua jagoan baru dari Oxihom ini. Yap, kita bakal bedah tuntas Oxihom Y5 dan Y8 yang katanya sih penyempurnaan dari dosa-dosa masa lalu mereka.
Tahun 2026 ini emang tahun yang aneh buat industri furnitur, di mana teknologi makin canggih tapi harga kursi bagus makin nggak ngotak. Makanya, kehadiran dua kursi ini di rentang harga dua jutaan itu kayak oase di gurun pasir buat kaum mendang-mending kayak kita. Gue memutuskan buat ngegabungin pembahasan kedua kursi ini dalam satu artikel panjang biar kalian nggak pusing bolak-balik tab browser.
Alasannya simpel banget karena sebenarnya kedua kursi ini tuh ibarat pinang dibelah dua yang bedanya cuma seuprit doang. Perbedaan paling mencolok yang bakal gue soroti habis-habisan nanti cuma ada di sektor lumbar support atau penopang pinggangnya. Sisanya, mereka berdua ini punya DNA yang identik dan sama-sama mencoba menebus kesalahan fatal yang pernah dilakukan oleh sang kakak, si Oxihom Y4.
Langsung aja gue tembak di awal biar kalian nggak penasaran setengah mati nungguin kesimpulan di akhir. Kedua kursi ini, baik Y5 maupun Y8, jauh lebih worth it untuk dibeli dibandingkan seri Y4 yang sempat gue puji-puji dulu. Gue sangat mengapresiasi langkah Oxihom yang mau mendengarkan caci maki netizen dan masukan reviewer bawel kayak gue untuk membenahi produk mereka.
Sebagai konteks buat kalian yang baru ngikutin scene per-kursi-an duniawi ini, Y4 itu dulu hampir banget masuk ke jajaran kursi Tier S versi gue. Di harga sejutaan waktu itu, dia punya back support dan lumbar support yang rasanya tuh enak banget dan susah dicari tandingannya. Tapi sayangnya, dia gagal total masuk ke hall of fame karena satu dosa besar yang nggak bisa gue maafin.
Dosa itu terletak pada bagian armrest atau sandaran tangannya yang modelnya foldable alias bisa dilipat ke atas. Mekanisme itu menurut gue aneh banget, ringkih, dan sama sekali nggak ergonomis buat kita yang kerjaannya ngetik seharian di depan PC. Gue bahkan sempat bahas detail soal kegagalan desain ini di artikel Review Jujur Oxihom Y4 Setelah Pemakaian 2 Tahun, di mana gue jelaskan kenapa armrest model begitu malah bikin bahu pegal.
Karena alasan itulah gue dulu agak berat hati buat merekomendasikan Y4 ke kebanyakan orang, terutama yang nyari kursi kerja serius. Tapi tenang aja, di tahun 2026 ini cerita sedih itu udah berakhir karena Y5 dan Y8 datang membawa perubahan yang masif. Khususnya di bagian tangan-tangan jahil itu, perubahannya beneran bikin gue senyum lebar pas nyobain duduk pertama kali.
Revolusi Armrest yang Menyelamatkan Reputasi Brand
Mari kita bahas dulu fitur yang jadi game changer di seri terbaru ini sebelum kita masuk ke bagian lain. Armrest di Y5 dan Y8 ini dirombak total dan sekarang jadi senjata utama yang bikin kursi ini layak banget dilirik. Meskipun mounting-nya masih nempel ke jok dan bukan ke rangka punggung kayak kursi lima jutaan, tapi fungsinya udah jauh di atas rata-rata.
Fitur yang paling gokil menurut gue adalah kemampuan rotasinya yang beneran fleksibel banget. Sandaran tangan ini bisa diputar alias pivot sampai 360 derajat tanpa hambatan yang berarti. Bagian bantalannya atau armpad-nya pun bisa diputar lagi secara independen buat menyesuaikan posisi siku kalian yang paling aneh sekalipun.
Nggak cuma bisa muter-muter kayak gasing, dia juga punya pengaturan maju mundur yang smooth dan tentu saja fitur wajib naik turun. Ada juga tambahan mekanisme tilt yang bikin sandaran tangannya bisa nungging sedikit ke atas. Fitur tilt ini pakai kuncian yang solid, jadi kalian nggak bakal kaget karena tiba-tiba sandarannya miring sendiri pas lagi asyik bersandar.
Jujur aja sih fitur tilt ini sebenernya agak gimmick dan nggak terlalu kepakai buat gue pribadi sehari-hari. Soalnya posisi armrest-nya ini nempel di jok, jadi posisinya agak terlalu ke depan buat dipakai sandaran santai sambil main HP. Biasanya fitur tilt gini enak kalau posisinya agak mundur dikit biar siku kita bisa napak sempurna pas lagi mode rebahan.
Tapi ya udahlah, sisanya fitur muter-muter 360 derajat itu udah cukup banget buat menutupi kekurangan fitur tilt yang jarang kepakai itu. Gue nyobain recline ke belakang sambil tangan tetap resting di armrest, rasanya masih nyaman banget buat main gamepad atau sekadar scrolling TikTok. Jangkauannya yang luas ke belakang bikin tangan kita nggak gantung kayak jemuran basah.
Model armrest fleksibel begini juga penyelamat banget buat kalian yang punya kebiasaan duduk mepet banget sama meja kerja. Biasanya kan sandaran tangan suka mentok tuh sama bibir meja, nah ini bisa disesuaikan biar tetap nyaman dan fungsional. Secara build quality, gue harus akuin kalau sambungan-sambungannya terasa solid dan nggak creaky atau bunyi kriet-kriet murahan.
Material armpad-nya juga juara, pakai soft rubber yang empuk tapi tetap firm pas ditekan siku. Teksturnya enak di kulit dan ukurannya pas banget, nggak kekecilan dan nggak kegedean kayak talenan dapur. Buat kalian yang masih bingung mending pilih kursi ini atau kompetitor lain, coba deh baca komparasi gue di artikel Adu Mekanik: Oxihom Y5 vs Sihoo M57 2026 Edition biar makin yakin.
Ada satu catatan kecil tapi penting banget soal tinggi armrest ini yang wajib kalian perhatikan sebelum beli. Posisi terendah dari armrest ini ternyata masih lumayan tinggi, bahkan di atas rata-rata kursi ergonomis lain yang pernah gue coba. Buat penggunaan sehari-hari sih nggak masalah, malah enak karena bahu jadi rileks.
Masalah baru muncul kalau kalian tipe orang yang rapi jali dan suka masukin kursi ke kolong meja pas lagi nggak dipakai. Kalau meja kalian tingginya standar 72 cm dan ada rangka besi atau laci di bawahnya, siap-siap aja armrest-nya bakal mentok. Di setup meja gue yang kakinya empat, gue harus naikin meja sekitar 2 cm biar kursi ini bisa masuk sempurna.
Baca Juga : 15 Plugin OBS Studio Terbaik (Update 2026): Ubah Laptop Jadi Studio Pro!
Pertarungan Sengit Antara Dua Tipe Penopang Pinggang
Sekarang kita masuk ke menu utama, yaitu perbedaan lumbar support antara Y5 dan Y8 yang jadi sumber kegalauan kalian semua. Di Oxihom Y5, mereka mempertahankan desain lumbar support yang sama persis dengan seri Y4 legendaris itu. Bentuknya kayak terpisah dari sandaran utama dan punya mekanisme yang unik banget.
Desain ini tuh fungsinya buat menjaga pinggang kanan dan kiri kita, bukan sekadar nonjok atau dorong tulang punggung ke depan secara kasar. Sensasinya pas duduk tuh kayak pinggang lu lagi dipeluk hangat dari sisi kanan dan kiri. Model begini sebenernya bukan barang baru karena udah ada di kursi mahal kayak Sihoo S300, tapi eksekusi di Y5 ini rasanya lebih pas.
Tension atau tegangan di Y5 ini kerasa lebih firm dan ada feedback-nya, nggak loose atau kendor kayak kursi murah. Rasanya tuh nampol ke depan buat menjaga postur, tapi tetap lembut dan nyaman di punggung bawah. Gue pribadi jauh lebih suka sensasi lumbar support model begini karena rasanya lebih natural buat pemakaian jangka panjang.
Yang bikin gue makin cinta sama Y5 adalah mereka memperbaiki mekanisme pengaturannya jadi jauh lebih praktis dan modern. Kalau di Y4 dulu kita harus muter-muter tuas ribet buat naikin atau majuin sandarannya, di Y5 ini udah tool-less. Lu tinggal tarik aja ke atas buat naikin posisinya, dan dia punya sistem levelling otomatis yang canggih.
Sementara itu, saudaranya si Y8 datang dengan pendekatan yang lebih konvensional alias cari aman aja. Lumbar support di Y8 bentuknya cembung biasa yang menyatu dengan backrest, model yang sering banget kita temuin di pasaran. Meskipun terlihat standar, gue harus akui kalau eksekusinya lumayan oke dan nggak bikin sakit pinggang.
Model cembung di Y8 ini untungnya nggak terlalu agresif sampai bikin badan kita rasanya mau terpental keluar dari kursi. Dia cukup sopan menopang punggung dan bikin kita tetap bisa duduk tegak tanpa harus leaning berlebihan. Tapi kalau disuruh milih, hati gue tetap tertambat pada pelukan hangat lumbar support milik Y5.
Keunggulan utama Y8 yang nggak dimiliki Y5 sebenernya ada di fitur naik turun satu backrest secara utuh. Jadi kalau di Y8, lu bisa naikin seluruh sandaran punggungnya, bukan cuma bagian lumbar-nya doang. Fitur ini krusial banget buat kalian yang tingginya di atas 180 cm atau para titan yang sering kesulitan nyari kursi yang pas.
Kalau lu punya tinggi badan menjulang, Y8 bakal lebih mengakomodasi karena sandaran kepalanya otomatis ikut naik menyesuaikan tinggi punggung. Nah, ngomongin soal postur tubuh dan kesehatan tulang belakang, jangan lupa cek tips gue di artikel Cara Mengatur Posisi Duduk Agar Tidak Sakit Pinggang biar kursi mahal lu nggak sia-sia. Di situ gue jelasin detail gimana cara nentuin titik lumbar yang pas buat anatomi tubuh lu.
Jadi kesimpulannya untuk sektor ini simpel aja sebenernya tergantung preferensi dan tinggi badan lu. Kalau lu suka sensasi dipeluk dan tinggi lu rata-rata orang Indonesia, ambil Y5 tanpa ragu. Tapi kalau lu bongsor dan butuh sandaran yang lebih tinggi secara keseluruhan, Y8 adalah jawaban yang lebih masuk akal.
Dilema Memilih Antara Busa Empuk atau Jaring Udara
Masuk ke bagian yang sering bikin orang salah pilih dan akhirnya menyesal tujuh turunan, yaitu pemilihan material jok. Oxihom merilis kedua kursi ini dalam dua varian, yaitu Full Mesh (jaring) dan Foam (busa). Gue bakal ngomong blak-blakan aja di sini: lupakan varian Mesh, ambil yang Foam aja dan hidup lu bakal tenang.
Varian Foam di Y5 dan Y8 ini udah dapet upgrade gila-gilaan dibandingin sama busa di Y4 yang kerasnya minta ampun. Busa yang sekarang rasanya jauh lebih premium, bentuknya normal, dan ukurannya juga pas buat pantat manusia pada umumnya. Jok Y4 dulu tuh aneh banget, bentuknya bulet kecil dan padat banget kayak batu kali, bikin cepat pegal.
Di seri terbaru ini, busanya kerasa lebih soft tapi tetap ada feedback-nya pas diduduki. Rasanya tuh kayak perpaduan antara molded foam mahal dan PU foam standar, enak banget lah pokoknya. Gue nggak merasakan panas berlebih juga meskipun duduk lama, jadi sirkulasi udaranya masih tergolong aman buat iklim tropis kita.
Nah, kenapa gue melarang keras kalian beli yang varian Mesh? Masalah utamanya ada di desain rangka atau frame dari mesh-nya itu sendiri. Rangkanya punya lengkungan yang menurut gue terlalu ekstrem dan malah jadi bumerang buat kenyamanan pengguna.
Pas kita duduk di tengah, rasanya tuh bagian tengahnya tinggi banget, sementara bagian belakangnya landai curam. Efeknya adalah paha kita kayak kegencet sama rangka depannya yang keras itu. Belum lagi rasanya kayak mau “jeblos” ke belakang karena turunan yang terlalu tajam di area tulang ekor.
Selain itu, desain rangka yang aneh ini bikin seat depth atau kedalaman dudukannya jadi pendek banget secara efektif. Buat orang yang tingginya di bawah 170 cm mungkin ini malah enak karena kaki nggak gantung. Tapi buat mayoritas orang, dudukan yang kependekan ini bikin paha nggak tertopang sempurna dan cepat kesemutan.
Beda banget ceritanya kalau lu pilih varian Foam, ukurannya terasa pas dan wajar. Buat tinggi gue yang 172 cm, masih ada sisa jarak sekitar tiga jari dari lipatan lutut, yang mana itu adalah jarak ideal ergonomis. Buat yang tingginya 165 cm mungkin udah agak mentok, tapi masih jauh lebih nyaman daripada varian Mesh.
Sayang banget emang di kursi seharga ini belum ada fitur sliding seat buat majuin dudukan. Kalau ada fitur itu, kursi ini bakal perfect banget karena bisa mengakomodasi orang yang kakinya panjang. Makanya gue selalu masukin fitur sliding seat sebagai syarat utama di artikel 7 Kursi Ergonomis Terbaik 2026 di Bawah 3 Juta, karena fitur itu emang sepenting itu.
Jadi tolong dengerin saran gue kali ini, jangan tergiur sama tampilan Mesh yang kelihatan futuristik atau alasan “biar adem”. Kenyamanan pantat dan paha lu jauh lebih penting daripada sekadar sirkulasi udara yang bisa diakali pakai kipas angin atau AC. Ambil yang Foam, titik.
Membedah Kualitas Material dan Mekanisme Kemiringan
Sekarang mari kita bedah jeroan mekanis dari kedua kursi ini biar kalian paham apa yang kalian beli. Untuk urusan gas lift, Oxihom untungnya nggak pelit dan udah pakai standar industri yang aman, yaitu Kelas 4. Ini penting banget karena menyangkut nyawa dan aset masa depan kalian biar nggak meledak tiba-tiba.
Karena bobot bagian atas kursinya nggak terlalu berat, gas lift Kelas 4 ini kerasa overkill dan aman banget buat nahan beban sampai 150 kg. Kaki-kakinya atau wheelbase pakai material nilon yang dicetak alias molded, bukan plastik murahan yang gampang patah. Ada aksen pijakan kaki juga di wheelbase-nya yang mirip sama seri mahal FSM6, lumayan buat estetika.
Nah, perbedaan mekanis yang cukup signifikan antara Y5 dan Y8 ada di sistem recline-nya. Y5 sayangnya pakai mekanisme “banci” yang cuma back tilt doang, bukan synchronous beneran. Jadi pas lu nyender ke belakang, cuma sandaran punggungnya doang yang gerak, dudukannya diam di tempat.
Sementara itu, Y8 udah pakai mekanisme synchronous meskipun masih versi yang sederhana dengan plat kupu-kupu. Artinya, pas lu nyender, dudukannya bakal ikut miring sedikit dengan rasio 1 banding 2. Rasanya jauh lebih enak dan natural buat stretching atau rebahan sebentar pas lagi capek mikirin deadline.
Walaupun secara visual mekanisme Y5 kelihatan lebih bersih dan rapi karena tertutup cover, tapi secara fungsi Y8 menang telak di sini. Buat kalian yang hobi rebahan di kursi kerja, Y8 bakal memberikan sensasi ayunan yang lebih nikmat. Tapi buat gue yang jarang rebahan dan lebih fokus ke kerja tegak, kekurangan mekanis di Y5 ini masih bisa dimaafkan.
Satu hal lagi yang agak nyebelin adalah pemaksaan fitur footrest atau sandaran kaki di semua varian. Oxihom nggak ngasih opsi versi non-footrest kayak biasanya, padahal lumayan kan bisa hemat seratus ribu perak kalau kita nggak butuh. Footrest-nya sendiri sih kualitasnya B aja, nggak ada yang spesial dan fungsinya standar banget.
Buat kalian yang ngerasa pede bisa ngerakit sendiri biar makin sayang sama barangnya, jangan lupa baca panduan gue di Tutorial Merakit Kursi Oxihom Sendiri di Rumah. Di situ gue kasih tips biar nggak ada baut yang sisa atau kebalik pas masang, karena ngerakit kursi ginian butuh kesabaran ekstra.
Baca Juga : Internet Sering RTO? Ini 7 Biang Kerok dan Cara Cek Pakai CMD
Kesimpulan Akhir dan Vonis untuk Dompet Kalian
Sampai di penghujung artikel, mari kita bicara soal harga dan siapa pemenangnya. Di tahun 2026 ini, harga Y5 varian Foam ada di kisaran 2,3 juta rupiah, sedangkan versi Mesh-nya malah lebih mahal di 2,6 juta. Si Y8 harganya sedikit lebih tinggi, yaitu 2,6 juta buat Foam dan 2,7 juta buat Mesh.
Warna yang tersedia buat Y5 ada Hitam dan Putih Gading (yang mereka sebut Grey tapi aslinya putih), sedangkan Y8 cuma ada Hitam. Kalau kalian tanya gue pilih mana, jawaban gue tegas: Oxihom Y5 varian Foam. Alasannya simpel, gue lebih mentingin kenyamanan lumbar support yang meluk pinggang dan armrest yang fleksibel dibanding mekanisme recline.
Y8 bukan kursi yang jelek, malah bagus banget buat kalian yang badannya tinggi besar di atas 180 cm. Tapi buat mayoritas orang Indonesia dengan tinggi rata-rata, Y5 adalah sweet spot yang susah dikalahin. Ingat ya, hindari varian Mesh kecuali kalian emang masokis yang suka pahanya sakit kejepit rangka kursi.
Dengan segala upgrade di sektor armrest dan seat, gue berani bilang kalau Y5 dan Y8 ini adalah penebusan dosa yang sukses besar dari Oxihom. Mereka berhasil bikin produk yang worth every penny dan sangat layak buat masuk ke setup kerja kalian tahun ini.
Ringkasan Review Oxihom Y5 dan Y8
Buat kalian yang males baca panjang lebar, nih gue kasih rangkuman intinya biar cepet:
- Armrest Juara: Fitur putar 360 derajat di Y5 & Y8 adalah game changer. Jauh lebih baik dari Y4 yang foldable.
- Lumbar Support: Y5 tipe “meluk” (lebih enak & firm), Y8 tipe cembung (standar tapi aman).
- Material Jok: WAJIB ambil yang FOAM. Varian Mesh rangkanya aneh, bikin paha sakit dan kedalaman duduk jadi pendek.
- Mekanisme: Y8 menang karena udah Synchronous tilt, Y5 cuma Back tilt biasa.
- Tinggi Badan: Y5 cocok buat tinggi <175cm. Y8 lebih cocok buat tinggi >180cm karena backrest bisa naik turun.
- Pemenang: Oxihom Y5 Foam adalah pilihan paling balanced dan worth it menurut gue.
Gimana? Udah yakin mau bungkus yang mana? Kalau kalian mau baca review kursi lain karya Revan, langsung aja obrak-abrik blog ini. Jangan lupa juga buat support kita dengan cara follow dan like sosial media Geminvo ID biar nggak ketinggalan racun-racun pop culture dan teknologi terbaru lainnya. Ciao!
“Praktisi teknologi yang hobi mengutak-atik PC dan menamatkan game tersulit, berdedikasi mengulas gadget serta membedah mekanik game berdasarkan pengalaman nyata dan pengujian mendalam.”